0

Membully si Pembully

Barusan aja lihat berita di tv lokal. Anak SMP di Garut di-bully. Kurang jelas videonya. Banyak di-blur. Tapi apapun bentuknya, bully itu mungkin sekilas menyenangkan. Namun menyesatkan. Kayaknya hebat ya, menjadi superior. Merasa diri lebih keren, lebih berkuasa dari orang lain. Menyenangkan, kan? Tapi setelah mem-bully, jiwa sadar kita akan pelan-pelan kalah sama bawah sadar. Karena bawah sadar selalu pegang kendali. Selalu menginginkan jadi diri yang oke. Tapi nggak pernah tau cara yang baik untuk memperolehnya.

Semenit setelah video beredar di medsos, kolom komentar mulai ramai. Sama netizen yang murka. Kalimatnya mulai dari yang religius sampai ke isi wc. Selang sepekan komentarnya makin ganas. Dari yang ngatain si pem-bully dengan bawa-bawa orangtuanya lah, sampai ancaman tanpa etika.

Saya sampai bingung. Mau kasihan sama siapa? Korban bully, atau si pem-bully? Kok rasanya masyarakat dunia maya malahan lebih jahat dr si pem-bully. Karena seketika mereka lupa kalau mereka jadi sama dengan yang mereka cela dan hina. Mereka kira membela korban bully dengan cara mem-bully pelakunya juga itu cukup beretika. Apa mereka nggak punya cermin, ya?

Sedetik setelah kita mengatakan hal buruk tentang seseorang (meski itu benar), bahkan mengatakannya di media sosial, maka kita juga pantas dapat predikat “pem-bully“. Congratulation.

Rupanya bullying sudah menjadi sakit mental bangsa yang sulit diobati.

Advertisements
0

Ghost Writer

Kebanyakan orang mungkin sudah tau apa itu ghost writer. Profesi sebagai “penulis tanpa nama” ini belakangan kembali ngehits. Karena apa? Banyak entertainer yang notabene nggak bisa nulis, ujug-ujug kepingin punya buku. Kepingin ada buku yang tertulis nama mereka sebagai author. Bukan kepingin menulis, ya. Catat.

Sebetulnya sah-sah saja jika ada seseorang yang mau memiliki karya berupa tulisan yang dibukukan. Asaaaall.. isinya berupa kisah mereka yang ditulis oleh penulis lain (tercantum namanya), atau mereka sendiri yang menulis dengan sebisa mereka. Toh di situlah fungsi adanya editor. Mengedit.

Kemarin, saya baru saja dapat pesan via whatsapp yang menanyakan apakah saya bersedia menulis biografi. Ketika saya tanyakan siapa subjek yang mau dibukukan kisahnya, orang ini tidak langsung menjawab, melainkan menanyakan fee menulis. Lalu setelah saya beri tau berapa fee yang saya biasa dapatkan dari menulis dan/mengedit buku, lantas si pengirim pesan ini akhirnya mau jujur.

Ia adalah seorang mahasiswa S2 jurusan komunikasi di salah satu universitas cukup tenar di Jakarta. Rumahnya di kawasan elit di Kelapa Gading. Ternyata, ia mendapat tugas dari dosen untuk membuat biografi tentang dirinya sendiri sebagai salah satu syarat kelulusannya. Namun, entah karena kurang pede, kurang waktu, or simply kurang bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, ia menempuh jalur “cepat”. Yup, “why not i hire a ghost writer?”

Dengan penuh kesopanan saya tolak tawarannya. Saya coba beri solusi untuk “masalah”nya itu. Dan Alhamdulillah dia ngerti. Mengerti kalau hasil itu bukan yang utama, melainkan prosesnya. Mengerti meski klise, hasil karya sendiri selalu lebih baik. Mengerti kalau sesuatu yang baik (menuntut ilmu kan baik, ya?) tidak akan baik lagi akhirnya kalau disertai dengan kebohongan-kebohongan seperti mencari ghost writer.

Maaf ya kepada ghost writer yang bertebaran di mana-mana. Kalau saya sih personally akan jauh lebih tenang dunia akhirat kalau menerima tawaran mengedit tulisan seseorang (meski tulisannya jelek banget), ketimbang dapat uang banyak dengan menjadi penulis bohongan untuk seseorang. Tapi kembali lagi, semua terserah Anda.

Ps. Fee saya mengedit tulisan nggak mahal-mahal amat, kok. Daripada menggaji ghost writer mahal2, mending sini saya yang editin tulisan orisinil kalian 😜😚

0

Ghost Writer

Kebanyakan orang mungkin sudah tau apa itu ghost writer. Profesi sebagai “penulis tanpa nama” ini belakangan kembali ngehits. Karena apa? Banyak entertainer yang notabene nggak bisa nulis, ujug-ujug kepingin punya buku. Kepingin ada buku yang tertulis nama mereka sebagai author. Bukan kepingin menulis, ya. Catat.

Sebetulnya sah-sah saja jika ada seseorang yang mau memiliki karya berupa tulisan yang dibukukan. Asaaaall.. isinya berupa kisah mereka yang ditulis oleh penulis lain (tercantum namanya), atau mereka sendiri yang menulis dengan sebisa mereka. Toh di situlah fungsi adanya editor. Mengedit.

Kemarin, saya baru saja dapat pesan via whatsapp yang menanyakan apakah saya bersedia menulis biografi. Ketika saya tanyakan siapa subjek yang mau dibukukan kisahnya, orang ini tidak langsung menjawab, melainkan menanyakan fee menulis. Lalu setelah saya beri tau berapa fee yang saya biasa dapatkan dari menulis dan/mengedit buku, lantas si pengirim pesan ini akhirnya mau jujur.

Ia adalah seorang mahasiswa S2 jurusan komunikasi di salah satu universitas cukup tenar di Jakarta. Rumahnya di kawasan elit di Kelapa Gading. Ternyata, ia mendapat tugas dari dosen untuk membuat biografi tentang dirinya sendiri sebagai salah satu syarat kelulusannya. Namun, entah karena kurang pede, kurang waktu, or simply kurang bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, ia menempuh jalur “cepat”. Yup, “why not i hire a ghost writer?”

Dengan penuh kesopanan saya tolak tawarannya. Saya coba beri solusi untuk “masalah”nya itu. Dan Alhamdulillah dia ngerti. Mengerti kalau hasil itu bukan yang utama, melainkan prosesnya. Mengerti meski klise, hasil karya sendiri selalu lebih baik. Mengerti kalau sesuatu yang baik (menuntut ilmu kan baik, ya?) tidak akan baik lagi akhirnya kalau disertai dengan kebohongan-kebohongan seperti mencari ghost writer.

Maaf ya kepada ghost writer yang bertebaran di mana-mana. Kalau saya sih personally akan jauh lebih tenang dunia akhirat kalau menerima tawaran mengedit tulisan seseorang (meski tulisannya jelek banget), ketimbang dapat uang banyak dengan menjadi penulis bohongan untuk seseorang. Tapi kembali lagi, semua terserah Anda.

Ps. Fee saya mengedit tulisan nggak mahal-mahal amat, kok. Daripada menggaji ghost writer mahal2, mending sini saya yang editin tulisan orisinil kalian 😜😚

0

Sorghum Choco Muffins

Penyebab terjadinya muffin ini adalah semalam saya mimpi makan chocolate cake pakai es krim vanila. Aduh berasa ngeces beneran deh di mimpi πŸ˜…

Pagi-pagi langsung ke dapur, baru ingat beberapa hari lalu beli tepung sorgum nix flour. Mufin ini gluten free. Tapi tidak dairy free krn pakai susu sapi organik dari Kampung 99. Jauh lebih sehatlah ya pd beli susu kemasan di supermarket.

Teksturnya sedikit grainy, mungkin karena ada campuran tepung pisang di dalamnya. But overall enak kok! πŸ™‚

Sayangnya Ainun memang kurang suka kue cokelat. Jd cuma habis satu mufin.

INGREDIENTS:

1 1/2 cups sorghum white mix flour

1/2 cup raw cacao powder

1/2 cup coconut sugar

1 1/2 tsp baking powder

1 tsp baking soda

1/2 tsp salt

3/4 cup milk

1/3 cup vegetable oil

1 large egg, beaten

DIRECTIONS:

Preheat the oven to 400Β° F. Grease 12 regular or 24 mini muffin tins.

In a medium bowl, sift flour, cocoa powder, sugar, baking powder, baking soda, and salt. In a large bowl, whisk together the milk, oil, and the egg. Add the dry ingredients and stir just until combined.

Fill the muffin cups 2/3 full. Bake 18 – 22 minutes, or until a wooden pick inserted into the center comes out clean.