0

Ghost Writer

Kebanyakan orang mungkin sudah tau apa itu ghost writer. Profesi sebagai “penulis tanpa nama” ini belakangan kembali ngehits. Karena apa? Banyak entertainer yang notabene nggak bisa nulis, ujug-ujug kepingin punya buku. Kepingin ada buku yang tertulis nama mereka sebagai author. Bukan kepingin menulis, ya. Catat.

Sebetulnya sah-sah saja jika ada seseorang yang mau memiliki karya berupa tulisan yang dibukukan. Asaaaall.. isinya berupa kisah mereka yang ditulis oleh penulis lain (tercantum namanya), atau mereka sendiri yang menulis dengan sebisa mereka. Toh di situlah fungsi adanya editor. Mengedit.

Kemarin, saya baru saja dapat pesan via whatsapp yang menanyakan apakah saya bersedia menulis biografi. Ketika saya tanyakan siapa subjek yang mau dibukukan kisahnya, orang ini tidak langsung menjawab, melainkan menanyakan fee menulis. Lalu setelah saya beri tau berapa fee yang saya biasa dapatkan dari menulis dan/mengedit buku, lantas si pengirim pesan ini akhirnya mau jujur.

Ia adalah seorang mahasiswa S2 jurusan komunikasi di salah satu universitas cukup tenar di Jakarta. Rumahnya di kawasan elit di Kelapa Gading. Ternyata, ia mendapat tugas dari dosen untuk membuat biografi tentang dirinya sendiri sebagai salah satu syarat kelulusannya. Namun, entah karena kurang pede, kurang waktu, or simply kurang bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, ia menempuh jalur “cepat”. Yup, “why not i hire a ghost writer?”

Dengan penuh kesopanan saya tolak tawarannya. Saya coba beri solusi untuk “masalah”nya itu. Dan Alhamdulillah dia ngerti. Mengerti kalau hasil itu bukan yang utama, melainkan prosesnya. Mengerti meski klise, hasil karya sendiri selalu lebih baik. Mengerti kalau sesuatu yang baik (menuntut ilmu kan baik, ya?) tidak akan baik lagi akhirnya kalau disertai dengan kebohongan-kebohongan seperti mencari ghost writer.

Maaf ya kepada ghost writer yang bertebaran di mana-mana. Kalau saya sih personally akan jauh lebih tenang dunia akhirat kalau menerima tawaran mengedit tulisan seseorang (meski tulisannya jelek banget), ketimbang dapat uang banyak dengan menjadi penulis bohongan untuk seseorang. Tapi kembali lagi, semua terserah Anda.

Ps. Fee saya mengedit tulisan nggak mahal-mahal amat, kok. Daripada menggaji ghost writer mahal2, mending sini saya yang editin tulisan orisinil kalian 😜😚

0

Ghost Writer

Kebanyakan orang mungkin sudah tau apa itu ghost writer. Profesi sebagai “penulis tanpa nama” ini belakangan kembali ngehits. Karena apa? Banyak entertainer yang notabene nggak bisa nulis, ujug-ujug kepingin punya buku. Kepingin ada buku yang tertulis nama mereka sebagai author. Bukan kepingin menulis, ya. Catat.

Sebetulnya sah-sah saja jika ada seseorang yang mau memiliki karya berupa tulisan yang dibukukan. Asaaaall.. isinya berupa kisah mereka yang ditulis oleh penulis lain (tercantum namanya), atau mereka sendiri yang menulis dengan sebisa mereka. Toh di situlah fungsi adanya editor. Mengedit.

Kemarin, saya baru saja dapat pesan via whatsapp yang menanyakan apakah saya bersedia menulis biografi. Ketika saya tanyakan siapa subjek yang mau dibukukan kisahnya, orang ini tidak langsung menjawab, melainkan menanyakan fee menulis. Lalu setelah saya beri tau berapa fee yang saya biasa dapatkan dari menulis dan/mengedit buku, lantas si pengirim pesan ini akhirnya mau jujur.

Ia adalah seorang mahasiswa S2 jurusan komunikasi di salah satu universitas cukup tenar di Jakarta. Rumahnya di kawasan elit di Kelapa Gading. Ternyata, ia mendapat tugas dari dosen untuk membuat biografi tentang dirinya sendiri sebagai salah satu syarat kelulusannya. Namun, entah karena kurang pede, kurang waktu, or simply kurang bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, ia menempuh jalur “cepat”. Yup, “why not i hire a ghost writer?”

Dengan penuh kesopanan saya tolak tawarannya. Saya coba beri solusi untuk “masalah”nya itu. Dan Alhamdulillah dia ngerti. Mengerti kalau hasil itu bukan yang utama, melainkan prosesnya. Mengerti meski klise, hasil karya sendiri selalu lebih baik. Mengerti kalau sesuatu yang baik (menuntut ilmu kan baik, ya?) tidak akan baik lagi akhirnya kalau disertai dengan kebohongan-kebohongan seperti mencari ghost writer.

Maaf ya kepada ghost writer yang bertebaran di mana-mana. Kalau saya sih personally akan jauh lebih tenang dunia akhirat kalau menerima tawaran mengedit tulisan seseorang (meski tulisannya jelek banget), ketimbang dapat uang banyak dengan menjadi penulis bohongan untuk seseorang. Tapi kembali lagi, semua terserah Anda.

Ps. Fee saya mengedit tulisan nggak mahal-mahal amat, kok. Daripada menggaji ghost writer mahal2, mending sini saya yang editin tulisan orisinil kalian 😜😚

0

Sorghum Choco Muffins

Penyebab terjadinya muffin ini adalah semalam saya mimpi makan chocolate cake pakai es krim vanila. Aduh berasa ngeces beneran deh di mimpi 😅

Pagi-pagi langsung ke dapur, baru ingat beberapa hari lalu beli tepung sorgum nix flour. Mufin ini gluten free. Tapi tidak dairy free krn pakai susu sapi organik dari Kampung 99. Jauh lebih sehatlah ya pd beli susu kemasan di supermarket.

Teksturnya sedikit grainy, mungkin karena ada campuran tepung pisang di dalamnya. But overall enak kok! 🙂

Sayangnya Ainun memang kurang suka kue cokelat. Jd cuma habis satu mufin.

INGREDIENTS:

1 1/2 cups sorghum white mix flour

1/2 cup raw cacao powder

1/2 cup coconut sugar

1 1/2 tsp baking powder

1 tsp baking soda

1/2 tsp salt

3/4 cup milk

1/3 cup vegetable oil

1 large egg, beaten

DIRECTIONS:

Preheat the oven to 400° F. Grease 12 regular or 24 mini muffin tins.

In a medium bowl, sift flour, cocoa powder, sugar, baking powder, baking soda, and salt. In a large bowl, whisk together the milk, oil, and the egg. Add the dry ingredients and stir just until combined.

Fill the muffin cups 2/3 full. Bake 18 – 22 minutes, or until a wooden pick inserted into the center comes out clean.

0

(Blow Your Mind) Adzuki Brownies


You know, there’s one night when you’re in a sweet craving, you could almost gulp hundred glass of caramel syrup. Of course i never did that.

Intinyaa, sometimes in the middle of the night, you NEED to EAT  a SWEET treat that won’t hurt your stomach after. And you’ll still have a good sleep without worrying the carbs, calories, etc. In that case, i have the solution: CHOCOLATE.

No, no, no. Bukan cokelat bar yang dijual di supermarket, yaa. Tapi kudapan berbahan dasar cokelat. Brownies misalnya. Brownies kok dibilang low carbs and sugar? Ha? Ha? Easy my friends, brownies yang resepnya mau saya share berikut, really will blow your mind 😊

Pernah makan kacang merah, kan? Buat saya, kacang merah itu cuma oke di olah jadi sweet dessert, kayak es kacang merah. Bukan jadi savory dish kayak sup kacang merah. Nah, beberapa waktu lalu saya pernah coba bikin brownies dari tepung kacang hijau. And then one brilliant idea came up! Why i didn’t use red bean to replace mung bean to make brownies?

So, (YEAY!) I did it. Pertukaran bahan dari kacang hijau ke kacang merah luar biasa sukses. Bahkan akhirnya sempat ada beberapa customer T.E.R.A.S.A yang order untuk dibuatkan. Karena keterbatasan equipment di rumahnya. Iya, memang untuk membuatnya dibutuhkan high speed blender (like Vitamix) atau food processor. I use food processor, though.

I love this part of writing a recipe. This brownies has blowing my mind.

It’s gluten free (this is important!)

It’s vegan

It’s refined sugar free

It’s surprisingly fudgy

Chocolate-y

and SHAREABLE! (Most important!)

Ok ok, it’s time to give you my recipe. Please do tag me on instagram (@dhincit) if you make this. Oh, you shud do make this.

Ingredients:

1 cup adzuki beans

2 Tbsp flaxseeds

1⁄2 cup coconut sugar 

1⁄2 cup cacao powder (pakai cocoa powder juga bisa)

1⁄4 cup nutbutter (saya pakai cashew butter)

1 tsp non-alcohol vanilla extract

1 pinch salt 

1⁄2 cup nuts/seeds, chopped (favorit saya pumpkin seeds atau kacang kenari)

oil, for the pan

method:

The day before baking, place the azuki beans in a bowl and soak overnight.

Drain the beans and place in a saucepan with plenty of water to cover and boil till tender. This will take around 15 – 20 minutes. Be patient.

Preheat the oven. Line a brownies pan with baking paper and a little coconut oil. 

Drain red beans well. Place them in a blender/food processor with raw cacao powder, coconut sugar, coconut oil, flaxseeds and vanilla extract. Blend really well till the beans are completely broken down and the mixture becomes a soft dough. Stop at least once and scrape the mixture down the sides. 

Spoon the dough into the brownie pan and press out with your fingers to flatten.

Place in the oven to bake for 30-35 minutes. Remove and allow to cool in the pan for 10 minutes, then flip out carefully onto a wire rack to cool. Slice up into squares and place in an air-tight container.  Keep this brownies in the fridge.

Entah kenapa brownies ini makin enak setelah satu-dua hari dibikin. Apalagi stelah masuk lemari es. Trus makannya pakai es krim vanilla. Lhooo, kok jadi nggak sehat yaa?? 😅😅
ki beans well. Place them in a blender with raw cacao powder, coconut sugar, coconut oil, flaxseeds and vanilla extract. Blend really well till the beans are completely broken down and the mixture becomes a soft dough. Stop at least once and scrape the mixture down the sides. 
Spoon the dough into the baking tin and press out with your fingers to flatten. To create an even top, smooth out with a spatula or the back of a spoon. 
Place in the oven to bake for 35 minutes. Remove and allow to cool in the tin for 10 minutes, then flip out carefully onto a wire rack to cool. Slice up into squares and place in an air-tight container.  Keep fudge brownies in the fridge or freezer.
These fudge brownies are best eaten after a day of letting the flavours develop and when cold from the fridge.