1

Obgyn Idaman

Depok, 16 Januari 2016

13.36

Bertemu dengan obgyn yang baik hati, pengertian, tidak suka menghakimi, kayaknya jadi idaman semua ibu hamil, ya. Tak terkecuali saya. Lucky me, I found her.

That’s what I thought when I finally found her name in some hospital near my house. Obgyn ini popular banget di kalangan ibu-ibu GBUS. Pro kelahiran normal, pro gentle birth, even in caesarean birth. Saya pikir, akhirnya bisa juga konsultasi sama dokter ini. Karena Alhamdulillah tempat beliau praktek tak jauh dari tempat saya tinggal. Saya dipastikan hamil di usia kandungan 4 minggu, di bulan September 2015. Happy, nervous at the same time. Ainun saja belum berhasil disapih, nih. Anehnya, setelah kontrol pertama, kok saya nggak dapat chemistry ya sama dokter ini? She’s nice, wise, but that’s it. Nggak kayak pertama kali ketemu bidannya Ainun dulu. Baru SMS-an aja sudah dapat chemistry-nya.

Tapi, Allah SWT berkehendak lain. Empat pekan dari hari itu, saya mengalami keguguran. Itu adalah kedua kali saya mengalaminya. Memang nggak berturut-turut, sih. Tapi cukup membuat saya khawatir. Ainun terlahir sehat setelah keguguran yang pertama. Ya sudah, saya dan suami mengikhlaskan.

Kami memang nggak pernah sengaja menunda ataupun sengaja program untuk segera punya anak lagi. Bagi kami, kapan saat yang tepat adalah keputusan Allah SWT. Alhamdulillah, selang 3 bulan saya dinyatakan hamil lagi. Sekarang masih 9 minggu. Masih jauh perjalanan. Masih besar kekhawatiran. Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan.

Di janji konsultasi pertama, saya memutuskan memilih obgyn lain. Kebetulan, di RS yang sama, dokter yang menangani kehamilan Ainun waktu itu juga praktek di sana. dr. Dyah namanya.Saya pikir, ada baiknya konsultasi ke dokter yang sudah saya kenal saja. Dan ternyata pilihan saya nggak salah. Bertemu dr. Dyah, seperti bertemu teman yang sudah lama sekali nggak bertemu. Ada rasa kangen, seneng, campur aduk dengan ingatan saat hamil Ainun dulu. Dia masih seperti yang dulu saya kenal. Baik, ramah sekali, ngemong banget, dan chemistry itu masih ada ternyata. Thank God pasien dia di RS ini nggak banyak. Jadi saya habiskan lama sekali waktu untuk ngobrol. Dari yang serius sampai banyolan-banyolan ringan. I’m glad I found her, again.

Anyway, dia gemes banget pas tau saya melahirkan Ainun di rumah, dengan bidan, dalam kolam pula! Hehehe

0

image

Thru her eyes i can see the world…

Mata Ainun itu seperti jendela buat saya. Iya, tiap kali melihat ke dalam matanya, saya langsung bisa menyaksikan apapun yang mungkin terjadi.

Ainun saya beri nama begitu, bukan tanpa alasan. Ainun artinya mata. Saya memang ingiiin sekali punya anak yang matanya bagus, indah, deep..

Sejak dalam kandungan, saya selalu ajak Ainun bicara, sejak ia masih sebesar biji gandum, saya sudah “request” ke dia dan Allah agar mata Ainun nanti indah🙂

Alhamdulillah, mata Ainun seindah yang saya bayangkan. Bahkan lebih. I could not ask for more :’)

I love you sampai ke akhirat nanti, Nak🙂

0

Belajar Lagi Yuk!

Beberapa hari lalu, salah seorang sahabat baru saja melahirkan bayi pertamanya. Ia bersalin di rumah sakit dengan dilakukan operasi c-section. Kenapa? Menurut dokter, di UK yang sudah a-term alias matang, air ketubannya dianggap sudah berkurang banyak. Lalu opsi operasi pun muncul.

Saya pernah berada di posisi si teman. Waktu mengandung Ainun di usia kehamilan 38 minggu, oleh dokter saya disarankan untuk induksi, karena menurut hasil pengamatan saat USG, air ketuban saya sudah berkurang. Plasenta pun dianggap mulai mengalami pengapuran, stage 1 aja padahal. Saya yang bimbang karena memang sangat mengharapkan segera bertemu Ainun, malah nggak tau harus berbuat apa. Lha wong hamilnya baik-baik aja, sehat-sehat terus, ketika harus bersalin, kenapa mesti di meja operasi?

Saya saat itu langsung menghubungi bidan saya, curhat ceritanya, kalau pak dokter nggak kooperatif. Saya cerita semua yang disarankan dokter. Lalu dengan lembut dan sabar, sang bidan meminta saya menanyakan seberapa banyak air ketuban saya berkurang? Berapa % persisnya? Pengapuran plasentanya ada di grade apa? Saya nurut, saya tanyakan ke pak dokter. Seperti yang sudah diprediksi bidan saya, pak dokter jawabnya ngalor-ngidul. “Pokoknya saran saya kamu CTG aja sekarang. Kalau hasilnya bagus, kita induksi malam ini. Kalau buruk, harus operasi malam ini juga,” Begitu kata pak dokter.

Alhamdulillah, saya sudah merasa lumayan membekali diri dengan afirmasi-afirmasi positif. Kala situasi nggak menyenangkan seperti itu, saya masih tetap bisa tenang dan berpikir jernih. Karena percayalah, saat panik, bingung, dan nggak tau harus ngapain, akan sulit sekali untuk berkomunikasi dengan si bayi di dalam rahim. Maka saya memutuskan untuk “masuk goa” saja. Yang paling tau kapan si bayi akan lahir adalah Allah SWT dan si bayi itu sendiri. Jadi, daripada pusing mikirin apa kata pak dokter, mending saya tanya aja sama bayinya, kapan dia mau keluar. Make sense, kan?

Dan nyatanya, saat akhirnya proses persalinan dimulai, bidan saya memeriksa kondisi bayi dan teman-temannya di dalam sana, air ketuban saya masih banyak dan jernih, tuh. Nah, coba kalau waktu itu saya lebih memilih dengar kata dokter? Soal pengapuran, lha ya emang di TM3 kehamilan itu plasenta sudah seharusnya mulai stage awal pengapuran. Dari mana saya tau? Ya baca-baca literatur, gabung di grup kehamilan, ngobrol sama bidan dan dokter kehamilan yang kompeten. Sayangnya, masih banyak calon Ibu yang malas membekali diri dengan kekepoan seperti yang saya lakukan. Percaya deh, kepo untuk urusan kehamilan, persalinan, dan kawan-kawannya itu diperlukan banget, lho! Jadi nggak ada tuh yang namanya “ah, nanti juga ngerti sendiri”, “Yang penting sabar waktu mau mbrojol, sakit sih, tapi yaaa namanya juga melahirkan, ya emang gitu”. Nggak bisa pasrah nrimo aja begitu, yaaa. Belajar, belajar, belajar. Insting seorang Ibu itu memang ada, tapi wajib diasah. Nggak mungkin mengandalkan insting tapi ajak ngobrol bayinya aja sekali seminggu.

Anyway, teman saya ini akhirnya menyerah pada meja operasi akibat nrimo apa kata dokter tanpa dengar apa kata bayinya. Nggak salah sih, tapi saya merasa, ada hak bayi yang wajib dipenuhi. Hak bayi untuk dilahirkan dengan ramah jiwa. Hak bayi untuk keluar lewat jalan yang memang sudah dipersiapkan Allah SWT sebagaimana mestinya. Hak bayi untuk memilih kapan ia siap bertemu Ibunya.

Alhamdulillah, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi hak-hak Ainun. Semoga ia nanti mampu memenuhi hak anak-anaknya juga🙂

Poin dari tulisan saya ini adalah, SATU, kalau ada seminar persiapan kehamilan, jangan buru-buru nolak, deh. Nggak ada salahnya belajar dari sebelum hamil. Kalau perlu ikutan kelas khusus persiapan hamil. Banyak banget ilmu yang bisa didapat. DUA, jangan ngeyel. Yakin sama apa yang dipercayai itu boleh, tapi saran orang lain itu perlu banget dipertimbangkan, nggak masalah siapa orangnya. TIGA, dokter bukan Tuhan. Ia manusia biasa yang juga bisa salah. Apalagi pegangannya mesin. SELALU mau mencari opsi-opsi lain. EMPAT, rajin baca literatur yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, persiapan menyusui, dll. Mau berdayakan diri terus deh pokoknya. LIMA, selalu jadikan si bayi rekan. Sertakan dia di setiap pilihan-pilihan yang kita hadapi. Aktor utama persalinan itu ya bayi, jangan jadikan dia pemain figuran. ENAM, terakhir, tinggal pasrahnya, deh. Serahkan sama Allah SWT.

Saya terus berdoa, semoga makin banyak calon Ibu yang mementingkan bayinya. Bukan kenyamanannya sendiri. Karena saya percaya, untuk menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih baik, dibutuhkan kelahiran bayi-bayi ramah jiwa, aman, damai, penuh cinta🙂

LOVE

0

AROMA

Pernahkah kamu berada di suatu tempat asing, namun terasa tak terlalu asing hanya karena tiba-tiba mencium sesuatu yang familiar? Saya sering. Yep, the power of smell.

Misalnya, suatu ketika, saat sedang membersihkan kamar (nggak asing ini mah ya?), saya menemukan sebuah buku. Saya yang memang suka mengendus bau buku jadul, otomatis mencium buku itu. Lantas kaget, karena tiba-tiba teringat satu momen. Rese’nya, saya lupa momennya, hehe. Pokoknya familiar banget.

Pernah juga, waktu ke supermarket (ini hobi, nih), saat melewati rak parfum, tau-tau ada satu wangi parfum yang “bocor” ke mana-mana. Langsung ingat suatu tempat. Nah, kalau tempat biasanya lebih mudah ingatnya. Misalnya, aroma melati dan kamboja, pasti teringat kuburan, kaaann? :))

Atau pernah nggak, lagi santai jalan keliling komplek, tau-tau ada cowok lewat, nggak sempat lihat wajahnya, tapi aromanya sama kayak parfum yang dipakai sama mantan pacar, hahaha! Pasti pernah, dong kalau ini? Ayo ngakuuuu :p

Tapi jangan salah, aroma adalah salah satu media yang bisa digunakan untuk mengembalikan ingatan pasien amnesia, lho. Sebegitu powerfulnya sebuah aroma (eh, bener nggak sih sebuah? Atau suatu ya?). Aroma juga bisa dijadikan oleh penyandang tuna netra untuk mengidentifikasi tempat. Contohnya tukang pijat langganan saya. Bu Rodiah namanya.

Suatu hari, saya panggil dia untuk datang ke rumah. Biasanya saya pakai kamar A. Nah, saat itu kamar A sedang dibersihkan. Saya ajak dia masuk ke kamar B. Saya nggak jelasin sama sekali kalau dia akan pijat saya di kamar yg berbeda dari biasa. Tapi saat sampai di kamar B, dia tanya, “Kamar yang biasa lagi nggak bisa dipakai ya, Mbak?” Lalu saya tanya balik, “Emangnya Ibu tau ini bukan di kamar yang biasa?”Dia jawab dengan yakin, “Tau dong, Mbak, kan baunya beda. Yang biasa kamarnya bau minyak gosok orangtua.” Hahaha, tau aja dia biasanya numpang kamar emak saya😀

Hmm, satu lagi yang bisa dilakukan aroma. Aroma bisa membuat pertemanan rusak. Contohnya, saat sedang berkendara ke luar kota bersama teman-teman, kami sedang melaju di jalan tol, saya kentut. Lalu saya lock semua jendela. Kebayang kan, gimana pertemanan kami setelah itu?😀

Wassalam,

Selamat istirahat!